TEORI-TEORI KEBENARAN FILSAFAT
BAB I
RINGKASAN MATERI
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
A. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
3. Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
B. Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1. Teori Corespondence ® menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
2. Teori Consistency ® Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
3. Teori Pragmatisme ® Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
4. Kebenaran Religius ® Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
BAB II
PEMBAHASAN
Pendidikan pada umumnya dan ilmu pengetahuan pada khususnya mengemban tugas utama untuk menemukan, pengembangan, menjelaskan, menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Semua orang yang berhasrat untuk mencintai kebenaran, bertindak sesuai dengan kebenaran. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.
Kebenaran sebagai ruang lingkup dan obyek pikir manusia sudah lama menjadi penyelidikan manusia. Manusia sepanjang sejarah kebudayaannya menyelidiki secara terus menerus apakah hakekat kebenaran itu?
Jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan kebenaran tersebut manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spikologis. Menurut para ahli filsafat itu bertingkat-tingkat bahkan tingkat-tingkat tersebut bersifat hirarkhis. Kebenaran yang satu di bawah kebenaran yang lain tingkatan kualitasnya ada kebenaran relatif, ada kebenaran mutlak (absolut). Ada kebenaran alami dan ada pula kebenaran illahi, ada kebenaran khusus individual, ada pula kebenaran umum universal.
A. Pengertian Kebenaran dan Tingkatannya
Dalam kehidupan manusia, kebenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tnapa kebanran.
Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :
5. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
6. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
7. Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
8. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan
Keempat tingkat kebenarna ini berbeda-beda wujud, sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya, disamping potensi subyek yang menyadarinya. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenarna itu. Misalnya pada tingkat kebenaran indera, potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indra.
Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia selalu mencari kebanran itu, membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.
Ukuran Kebenarannya :
- Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran
- Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain
- Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran
Jenis-jenis Kebenaran :
1. Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan)
2. Kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan)
3. Kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksankan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenran, tanpa melaksankan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik spilogis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.
Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh budi nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebnarna itu bersal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengna integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang dimana di dalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia.
B. Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1. Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita oyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Teori korispodensi (corespondence theory of truth) ® menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaran dengan realitas yang serasi dengan sitasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu :
1. Statemaent (pernyataan)
2. Persesuaian (agreemant)
3. Situasi (situation)
4. Kenyataan (realitas)
5. Putusan (judgements)
Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya plato, aristotels dan moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolatik, serta oleh Berrand Russel pada abad moderen.
Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran menuru corespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya.
Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide, kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita, obyek, nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.
2. Teori Consistency
Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenarna bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Sebab apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain.
Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khsusunya di dalam bidang pengukuran pendidikan.
Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dankelanjutan yang teliti dan teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedah teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran tadi.
Teori koherensi (the coherence theory of trut) menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada perntentangan, bersifat koheren dan konsisten dengna pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.
Rumusan kebenaran adalah turth is a sistematis coherence dan trut is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis.
Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggapbenar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yagn benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.
3. Teori Pragmatisme
Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesutu menjadi lebih jelas dan mampu mengembalikan kontinuitas pengajaran, jika tidak, teori ini salah.
Jika teori itu praktis, mampu memecahkan problem secara tepat barulah teori itu benar. Yang dapat secara efektif memecahkan masalah itulah teori yang benar (kebenaran).
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memliki kebanran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia.
Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yagn memuaskan (satisfaktor consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya.
Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
2. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen
3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada)
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsup Amerika tokohnya adalha Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859).
Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsikuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsikasi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri, malainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan mengerti segala sesuai melalui praktek di dalam program solving.
4. Kebenaran Religius
Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan antara kesan dengan realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan maka itu benar.
Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
Nilai kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional dan superindividual. Bahkan bagi kaum religius kebenarn aillahi ini adalah kebenarna tertinggi, dimnaa semua kebanaran (kebenaran inderan, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis) taraf dan nilainya berada di bawah kebanaran ini :
Agama sebagai teori kebenaran
Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan alat, budi,fakta, realitas dan kegunaan sebagai landasannya. Dalam teori kebanran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Sebagai makluk pencari kebeanran, manusia dan mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran.
BAB III
KESIMPULAN
Bahwa kebanran itu sangat ditentukan oleh potensi subyek kemudian pula tingkatan validitas. Kebanran ditentukan oleh potensi subyek yang berperanan di dalam penghayatan atas sesuatu itu.
Bahwa kebenaran itu adalah perwujudan dari pemahaman (comprehension) subjek tentang sesuatu terutama yang bersumber dari sesuatu yang diluar subyek itu realita, perisitwa, nilai-nilai (norma dan hukum) yang bersifat umum.
Bahwa kebenaran itu ada yang relatif terbatas, ada pula yang umum. Bahkan ada pula yang mutlak, abadi dan universal. Wujud kebenaran itu ada yang berupa penghayatan lahiriah, jasmaniah, indera, ada yang berupa ide-ide yang merupkan pemahaman potensi subjek (mental,r asio, intelektual).
Bahwa substansi kebenaran adalah di dalam antaraksi kepribadian manusia dengan alam semesta. Tingkat wujud kebenaran ditentukan oleh potensi subjek yang menjangkaunya.
Semua teori kebanrna itu ada dan dipraktekkan manusia di dalam kehidupan nyata. Yang mana masing-masing mempunyai nilai di dalam kehidupan manusia.
BAB IV
DAFTAR BACAAN
Syam, Muhammad Noor. 1988. Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional
Bertens, K. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Jakarta: Yayasan Krisius
Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan





September 21, 2009 pada 11:38 am
Terima kasih, tapi perlu diperjelas teori kebenaran abosolut dan terori kebenaran ilmia
Maret 25, 2010 pada 9:04 am
SESUATU DIKATAKAN BENAR TAK KALA TIDAK ADA KEBENARAN LAGI YANG DI SEPAKATI SECARA DE JURE AND DE FAKTO. 1 + 1= 2 ADALAH WUJUD KESEPAKATAN TATKALA 1+1= 9 DISETUJUI MAKA ITU JUGA KEBENARAN. JADI KEBENARAN TAK LEBIH DARI SEBUAH KESEPAKATAN HUMANIS
Oktober 5, 2010 pada 12:44 pm
Ijiiiin Ngutiip tulisan nya iiah,,
Mkasiii,,
^_^
Oktober 7, 2010 pada 11:40 am
Thanks buat tulisan.y..
ijiin ngutip yaah..
^_^
Oktober 10, 2010 pada 9:32 am
ijin ngutip tulisanya…..trims
Oktober 15, 2010 pada 11:50 am
bagus banget tuch tulisanmu……
Oktober 18, 2010 pada 3:26 pm
kerennnnn…….!!!!!!! ka wie jg gy da tugass tentang kebenaran.
Oktober 18, 2010 pada 3:28 pm
bolehhhhhh de pke ga????? wat tugas de?????
November 3, 2010 pada 12:54 pm
thx iaa… ngebantu bgt bwt tugas saya…. ^^
Desember 8, 2010 pada 1:50 am
thx yach buat tulisannya… udah bantu jd referensi tugas nii
Desember 16, 2010 pada 4:43 am
THANXXX buat tulisan’a ya,,,al’a da bantu q bgt buat nyelesaiin tugas kuliah.
Desember 16, 2010 pada 8:43 am
tmbh bingung ma tgasQ,,,,,
Desember 22, 2010 pada 4:36 am
ijin ngutip ya…
mkasih
Februari 24, 2011 pada 9:39 am
trimakasih…….ijin ngutip utk tugas y….
April 7, 2011 pada 9:41 am
makasiih mas, atas artikel2 tentang filsafatnya. sangat lengkap dan bermanfaat.
)
April 10, 2011 pada 6:00 pm
thx bwt referensinya.. hehehe..
April 21, 2011 pada 3:53 am
thanks buat referensinya yah.,
ijiin ngutip dikiit ajah..
Mei 14, 2011 pada 3:45 pm
izin ngopy y mas …. (@_@)
Oktober 5, 2011 pada 2:35 am
tugas filsafat ghu clesai cmua…..
thanks yaach….
Oktober 10, 2011 pada 12:44 pm
boleh ngutip dunk boz..
Oktober 11, 2011 pada 3:50 am
bleh donk d jdkan referensi makala & klau ga kbratan bsa ga aku mnta pndptx ttg crita ne
menurut anda nilai apa yg terkandung dari crita,seorang saudagar yang mmpunyai 4 orang istri kmudian istri yg ke 4-2 d bri prhtian dan fasilitas yg memadai.sdangkan istri yg pertma di acuhkan,ttpi krn cntax si istri smpai suatu hri si saudagar itu jth skit,tak ada yg prduli satu pun dari istrix yg mau menemani kcuali istri prtmanya.dengan alasan bahwa kami brtga msh sangat muda untuk ikut mati dgan mu,lbh baik kami brsnang2 dan menkah lg.sdgkan istri yg prtma brkta,slagi aku mampu mengurusmu pasti aku akan menemanimu dan mengurusmu.
Oktober 13, 2011 pada 1:33 pm
terimakasih.. artikel ini sangat membantu saya yang tidak punya buku filsafat ^^
Oktober 16, 2011 pada 11:06 am
makasiii atas info nyaaa…
Oktober 23, 2011 pada 6:14 am
ijin ngutip ea
Oktober 26, 2011 pada 1:24 pm
Ijin Ngutip bro buat ngerjain tugas filsafat, tq infonya . . .
November 9, 2011 pada 5:52 am
semoga dapat menolong UTS pkn open book…
November 10, 2011 pada 7:15 pm
Kebenaran mutlak Agama (Dari Tuhan), Kebenaran Filsafat (Dari Para Ilmuwan Fils), Kebenran hati nurani (dari lubuk hati yang paling dalam/hati nurani) Kebenaran psikologis(dari ilmuwan psi), Kebenaran teoristis (Dari para ilmuwan), Kebenaran Praktis (dari para peneliti), Kebenaran sains dan teknologi (dari pakar sains dan teknologi), Kebenaran sosial (dari pakar sosial), Kebenaran politik (dari politikus), Kebenaran ekonomi dari (ekonom), Kebenaran hukum (dari pakar hukum), Kebenaran bisnis dari (bisnisman). Kebenaran individual dari (individu masing-masing), kebenaran emosional (dari emosi masing-masing). dan masih banyak lagi kebenaran.
November 11, 2011 pada 7:35 am
bagus . terus bagai mana menurut anda seseorang yang memahami agama dngan teori korespondence atau prgmatis atau dengan teori yang lain? bisakah diterima ucapannya dalam hal agama?
November 14, 2011 pada 1:11 pm
saya senang sekali dengan tulisan anda,ini refrensi buat saya,jika ada yang bertanya pada saya,tentang filsafat.
November 22, 2011 pada 7:55 am
ada asumsi bahwa tidak ada 2 kebenaran dalam waktu yang bersamaan,, jika ada maka salah 1 ada yang salah,,, boleh minta contoh gag pada metode rasional dan metode empiris yang contohnya saling berlawanan tapi ke2 metode itu tetap menganggap benar…
November 24, 2011 pada 2:38 pm
semoga Dzat yang maha segalanya selalu memberi kemudahan dalam setiap langkah anda…amien
Desember 3, 2011 pada 2:59 pm
sayang ga ada referensi footnote nya…
Desember 5, 2011 pada 7:59 pm
ijin ngopy y om,makasih
Desember 9, 2011 pada 9:54 am
terus maju!!! dan semangat tuk berbagi info pengetahuan lewat dunia maya!!
Desember 17, 2011 pada 11:01 pm
ijin ngutipxx,,,,
Desember 17, 2011 pada 11:57 pm
ergrsdgregrhbrhger
Desember 19, 2011 pada 11:10 am
filsafat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! apa itu filsafat dalm konteks teori yang bersumber dari manusia atau dari ahli atau pakar???????????
Januari 27, 2012 pada 5:59 am
Mantap.
Februari 6, 2012 pada 9:37 am
terimakasih , ijin mengutip
kl yg dmksud dg kebenaran non ilmiah , cntoh : penemu kbnran scr kbthan,secara akal sehat,melalui wahyu,secra intuitif ?
Februari 9, 2012 pada 11:20 am
tq…
ijin ngopast ya
Maret 1, 2012 pada 2:35 am
ijin ngutip ea ka’……:)
Maret 1, 2012 pada 7:52 am
ijin ngutip ilmunya ka,,,,,,,,,
Maret 17, 2012 pada 6:30 pm
pembahasan singkat, dan tepat serta layak dibaca, thanks bro
Maret 25, 2012 pada 1:16 pm
[...] http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ 0.000000 0.000000 Like this:LikeBe the first to like this post. [...]
April 1, 2012 pada 12:25 am
SALAM,,, Tulisannya sangat menarik/LOGIS,, -Ijin copy ilmunya yaa,,, Trimss,,,,
April 4, 2012 pada 3:42 pm
bacaannya sangat membantu..=))
April 21, 2012 pada 12:03 pm
bisa kasi tau contohnya juga gag???
tolong dijawab yaa?
makasih,,
Mei 2, 2012 pada 7:47 am
slamt sore, saya mau tanya : apa kegunaan filsafat dengan manajement, trus contoh – contoh dari teori Koherensi, Korespondensi, ampiris, dan Pragmatisme. trimakasih
Mei 24, 2012 pada 11:43 am
ASS.. BOLEH NGK NGUTIP N AKU MAU NANYA AM TEMAN2 N YANG MANA YANG DULUAN HADIR MANUSIA ATAU BAHASA N TOLONG JELASKAN SCR ETIMOLOGI N TERMINOLOGI N TRM KSH X !!!!!!!!!!!!!!
Juni 4, 2012 pada 3:15 am
makasih…
Juli 2, 2012 pada 2:59 pm
Bila kita menyadari bahwa realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka konsep ‘kebenaran’ pun seharusnya merangkum kedua alam itu,itu yang realistic dan ilmiah. menyisihkan atau meminggirkan realitas dunia abstrak untuk hanya menerima yang konkrit sebagai ‘kenyataan’ dan obyek ilmu satu satu nya maka hal itu sebenarnya sama dengan menyembunyikan fakta ilmiah atau tidak realistik.
Dan jangan lupa kita juga harus introspeksi : ‘kacamata’ apa yang biasa kita gunakan umtuk melihat serta memahami ‘ilmu’ dan konsep ‘kebenaran’itu sebab teramat banyak ‘kacamata’ sudut pandang yang biasa manusia gunakan,yang garis besarnya bisa kita bagi dua :’kacamata sudut pandang ‘buatan manusia dan kacamata sudut pandang Tuhan yang dikonsepsikan melalui kitab suci. wacana filsafat adalah wacana yang paling banyak melahirkan ‘kacamata sudut pandang manusia’ dengan berbagai jenis dan ‘label’.
Jadi bagaimana cara orang memahami konsep ‘kebenaran’ itu sebenarnya bergantung pada kacamata apa yang digunakannya,bila seorang melihat konsep kebenaran dengan kacamata sudut pandang ‘isme’ tertentu maka konsep kebenaran yang ia fahami dibingkai oleh isme tertentu itu tadi,missal bila seorang melihat dan berupaya memahami konsep kebenaran dengan menggunakan kacamata sudut pandang ‘saintisme’ maka kebenaran yang akan ia lihat dan ia fahami adalah konsep kebenaran yang dibingkai oleh prinsip faham saintisme,kemudian bila seorang melihat dan berupaya memahami konsep kebenaran dengan menggunakan kacamata agama maka konsep kebenaran yang ia fahami kelak adalah konsep kebenaran yang dibingkai oleh agama. Jadi bila ingin memahami apa itu konsep ‘kebenaran’ maka pertimbangkan secara matang kacamata mana yang akan digunakan untuk melihatnya.
Ada ribuan kacamata buatan manusia sebagai contoh yang paling mengemuka : kacamata saintisme, rasionalisme,empirisme,eksistensialisme,relativisme,monism,dll,dll.dll. dan akan bertambah banyak lagi sesuai perkembangan zaman.dan sebenarnya hanya ada satu kacamata sudut pandang Tuhan karena Tuhan hanya satu mustahil dua.(bila manusia telah bisa memahaminya).
Hanya pengetahuan kita tentu tidak cukup sampai disini sebab langkah selanjutnya adalah kita harus menela’ah secara teliti kualitas dari tiap kacamata yang akan kita gunakan serta konsep kebenaran yang bagaimana yang kita inginkan untuk kita ketahui dan kita fahami,sebagai contoh bila kita ingin mengenal konsep kebenaran yang bersifat mutlak dan menyeluruh maka mustahil kita bisa memahaminya bila kita menggunakan kacamata sudut pandang buatan manusia,sebab itu ibarat upaya meneropong planit Mars dengan teropong kecil,artinya kacamata sudut pandang buatan manusia apapun jenisnya serta apapun label ‘isme’ nya akan terlalu kecil bila digunakan untuk melihat serta memahami apalagi menyelesaikan beragam problematika kebenaran yang bersifat menyeluruh.
Kita lihat contoh : kacamata sudut pandang filsafat ternyata tidak bisa menyelesaikan beragam problematika kebenaran yang ada didalamnya sehingga dalam dunia filsafat sampai hari ini menumpuk pertanyaan pertanyaan yang sudah tidak bisa dijawab oleh manusia.(sebab itu patut dipertanyakan bila dalam buku buku pengantar filsafat didefinisikan sebagai : kajian yang bersifat ‘menyeluruh’ sebab bila memang bersifat menyeluruh berarti harus tidak meninggalkan pertanyaan pertanyaan yang tidak bisa dijawab).
Ironisnya dengan ‘kacamata’ atau ‘teropong kecil’nya tidak sedikit manusia yang berani menghakimi agama dengan stigma negative padahal manusia mustahil bisa menangkap apalagi memahami keseluruhan tanpa Tuhan.(analoginya : bagaimana seorang bisa mendeskripsikan secara tepat apa yang ada didalam lautan yang dalam bila ia hanya bisa melihatnya dari permukaan).
Juli 14, 2012 pada 3:42 pm
sedikit referensi,.. ^_^
http://www.penerbitindieraya.wordpress.com/2012/07/14/paradigma-kebenaran-cara-memahami-kebenaran-sesungguhnya/
Juli 15, 2012 pada 6:27 pm
http://www.penerbitindieraya.wordpress.com/2012/07/14/paradigma-kebenaran-cara-memahami-kebenaran-sesungguhnya/
Oktober 17, 2012 pada 11:31 pm
Ijin ngutip ya tentang materinya
November 13, 2012 pada 12:46 am
“terimakasih Atas InformasihNya,,”
Kalau Boleh Tanya Lagi ‘kan begitu banyak orang-orang yang membuat teori tentang filsafat seni, yang ingin saya tanyakan,, Siapa saja Orang_orangnya dan Apa saja Teorinya,, ?
terimakasih..
November 13, 2012 pada 11:11 pm
ijin copas
November 15, 2012 pada 4:09 pm
ijin copas yaa, makasih sangat membantu:)
November 15, 2012 pada 6:33 pm
sangat membantu,.
terima kasih
Januari 26, 2013 pada 2:22 am
[...] http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ [...]
Februari 2, 2013 pada 2:20 pm
[...] http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ [Agustus/05/2007] [...]
Februari 7, 2013 pada 6:06 am
[...] http://van88.wordpress.com/teori-teori-kebenaran-filsafat/ [Agustus/05/2007] [...]
Maret 6, 2013 pada 3:10 am
kerennnn…..
Maret 29, 2013 pada 2:48 pm
terimakasih saudara ku
April 11, 2013 pada 12:14 pm
tahknzzz…. tas sumbangan_nya…
April 11, 2013 pada 12:27 pm
perjuangan tuk mencari dan menemukan kebenaran ditengah ketidak benaran dan kesalahan…. tetaplah pada posisi yang membenarkan yang benar….. jangan berpihak pada pembenar yang mmbenarkan yang tdk benar…
April 25, 2013 pada 2:31 am
terimakasih, ini artikel yg sudah lama aku cari
Mei 18, 2013 pada 4:02 am
Mohon ijin untuk di jadikan salah satu referensi ya kawan…. terima kasih atas ijinnya, sukses selalu.
Juni 8, 2013 pada 9:42 pm
assalamu alaikum ….Trima kasih anda telah membuka wawasan keilmuwan tentang kebenaran filsafat dan mohon izin mengcopy paste sebagai sumber ilmu wassalamu