PUISI-PUISI CINTA
KAU
Kau yang kucinta, Seakan berlari menjauh
Tinggalkan hati yang luruh
Kau yang kusayang
Seakan terbang melayang
Menjulang….
Tak tergapai tangan
Sampai kapan kupunya harapan??
Sampai dimana kuturut waktu???
Haruskah kubelah resah
Hingga pasrah terpisah
Hingga dapat kaki berlari
Hingga dapat tangan mengepak
Bila Tuhan berkenan
Kurela kau hinggap di jiwaku
Menghuni setiap sel hidupku
Hingga denyut cinta dan rinduku
Dapat kau tahu dan rasakan
Ataukah kau mesti bagai kanker ganas
Menggerogoti setiap organ tubuhku
Menyebar seirama aliran darahku
Agar hidup matiku di tanganmu
Sampai tiba saat kembali ke tanah
Kau tetap kupeluk erat……………….
|
Doaku
SAYANG…..
Lemah sungguh badanku
Rapuh nian jiwaku
Hingga, sering begitu kumendukakan-Mu
Hariku berganti terus, melaju
Tiap jam, tiap menit, tiap detikku berlalu
Tanpa asa, rasa, dan cinta
SAYANG……
Jangan biarkan kuterus melaju
Dengan hati kelu membeku
Jangan biarkan kumelangkah maju
Tanpa tujuan pada-Mu
Dengarkanlah aku Tuhan
Dengarlah seruku
Biarlah kurasakan kasih cinta-Mu
Biarkanlah kurasa sayang-Mu
SAYANG….
Jadilah naunganku
Jadilah benteng dan perisaiku
Dan jadilah kekuatanku
Agar aku dapat terus melaju
Menempuh jalan hidupku
Padamu-jua Tujuanku
|
|
PERTEMUAN
Mari kita bicara tentang kedalaman
Yang pernah ada
Sempatkan kita selami hangatnya
Dibawah kemurnian maknanya
Dan bara berbuih di riaknya
Kita tak pernah tahu……
Mari kita bicara tentang kedalaman yang hilang
Tinggalkan kita yang tak pernah tahu
Kaburkan makna yang baru lalu
Ketika ‘mengapa’ ketuk dinding jarak
Tersadar kita dalam ketidaktahuan
Seketika dingin menyergap lembah senyap
Diam…………
SEBUAH KANVAS BERSYAIR
SAYANG…..
Mengapa syair menerus gapai
Kunjung sempatkan terlerai
Hingga sajakku membangkai?
Menepilah dekap beri,
Ini kanvas bersyair
Biar ke pelosok tak temu lagi
Dan SAYANG……..
Usah cabik kanvas putih itu
Agar syair tak menintakan darah
Karena mutiaraku terlukis
Lewat larik dimana ketika
Tinggal kemampuan musisi
SENYUM RINDUKU
Kala kumerindu
Kau bawa rinduku dalam senyummu
Dan alam pun tersenyum
Seperti senyumku dan senyummu
Adakah kemungkinan?
SAYANG…
Hatiku berbicara tentang cinta,
Rindu,
Kasih sayang yang
Reme-rame menyerbu jiwaku bersama
Beban-beban yang lainnya
Tetapi hanya kepada malam aku bercerita
Tentang angan-angan
Dan kepada pelangi kugantungkan harapan
Adakah kemungkinan?
Adakah kemungkinan kau mengerti, SAYANG?
HUJAN
Jemarimu menjentik manja
Sirami galau yang mengendap
Hadirkan ribuan harap
Menyusuri belukar angan
Gemuruhmu menebar cinta
Sadarkan aku
Bahwa kemarau panjang telah berlalu
Hingga membawaku menyongsong pagi
Untuk bangun dan menatap indahnya dunia
Ketika kuberteduh di matamu
Memandangi matamu, tak ada dusta
Yang bisa kueja
Kalau rindu yang kupunya
Selalu saja kualamatkan
Untuk berkunjung di teduh matamu
Menembus bening matamu, kembali
Mengajarkanku
Alangkah tak bergunanya meratapi masa lalu
Tapi pernahkah kau berpikir
Akan sebuah penantian yang amat panjang?
Kepergian selalu mengundangku untuk pulang
Bertandang di teduh matamu
“jangan beri aku mimpi-mimpi. Sebab mimpi
Selamanya tak berarti”, sesuara hatiku menderu
Padahal tak sedetik pun terlintas dalam anganku
Kalau hari-hari yang datang menjelang
Adalah hari-hari sepi, adalah hari-hariku
Tanpamu: kusadari kalu yang berteduh di matamu
Tidak hanya aku
Adakah jarak yang membuatmu berpaling?
Sungguh, aku tak menginginkan jawabmu, SAYANG
Sebab mulanya aku sudah ragu
Ada gerah ketika berteduh di matamu!


Oktober 25, 2008 pada 1:11 pm
Hahaha..ndak lai