FILSAFAT PENDIDIKAN

BAB I

RINGKASAN MATERI

A. TUJUAN HIDUP

Mengetahui tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya “Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya. Dalam hal ini Self-managing sangat berperan untuk lebih mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita capai, selanjutnya adalah mengelola diri kita untuk mencapai tujuan tersebut.

Manusia itu Ada dari tiada menjadi ada dan akan tiada untuk ada, manusia lahir dalam keadaan lemah kemudian tumbuh besar menjadi kuat, sakit dikit menjadi lemah sembuh merasa kuat tua menjadi lemah, manusia itu dari lahir bodoh kemudian belajar menjadi pintar semakin blajar semakin merasa bodoh dan ahirnya akan menjadi pintar, tua renta akan semakin pelupa dst. Daur kehidupan haruslah difikirkan dan direnungkan agar lebih mengetahui tujuan dari hidup ini. Daur kehidupan ini akan terjawab setelah kita merenungi dan memahami ” Dari mana dan akan ke mana?” yang menuntut kita untuk mencari jawabannya. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa, “… Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya” menunjukan bahwa tujuan kita hidup semata mata untuk kembali kepadaNya Sang Maha Pencipta, kata kasarnya, tujuan hidup kita adalah Mati, Namun kita tidak bisa melupakan atau mengenyampingkan Apa Tugas yang dibebani oleh Allah S.W.T dalam mengisi hidup di dunia untuk dipertanggungjawabkan setelah mencapai tujuan hidup nanti.

Manusia tidak tahu kapan akan mencapai tujuan hidupnya yaitu mati, karena itu siapkanlah diri untuk menghadapi kematian dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain, “Belajarlah mati sebelum mati” (Mutuu qabla an tamuutuu), yaitu belajar dan berusaha agar kita selalu siap, agar sewaktu-waktu bila telah sampai pada tujuan, kembalilah dengan selamat dan bahagia. yaitu matinya orang orang yang bertakwa, yang hatinya selalu berzikir dan ingat kepada Allah dalam keadaan apa pun, dalam Al qur’an dijelaskan ” Wajah-wajah mereka (orang-orang beriman) pada hari itu berseri-seri. Mereka melihat kepada Tuhannya.

Dengan menentukan tujuan hidup, maka kita dapat menentukan sasaran/target hidup dan bagaimana kita menggunakan waktu kita. Mungkin bisa kita renungkan beberapa contoh pertanyaan ini:

- Apa sich tujuan saya yang bermanfaat didalam jangka panjang untuk kebutuhan rohani/spiritual saya?

- Apa tujuan saya yang bermanfaat untuk jangka panjang untuk kemampuan intelektual dan pemikiran saya?

- Apa tujuan saya bermanfaat dalam jangka panjang bagi keuangan dan kemampuan material saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa kita sesuaikan dengan kondisi sasaran tujuan hidup kita, bisa kita tambahkan dengan pertanyaan lainnya. Karena tujuan hidup tiap orang bisa berbeda. Untuk menetapkan tujuan hidup biasanya melalui pemikiran yang mendalam dan tentu saja membutuhkan waktu, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menetapkan sasaran-sasaran tersebut.

B. TUJUAN PENDIDIKAN

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.

Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.

Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.

Kalau kita berbicara tentang pendidikan, tentunya tidak akan terlepas dari masalah apa sih sebenarnya tujuan pendidikan itu. Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula. Di Indonesia sendiri, dari masalah pendidikan ini akhirnya muncul polemik-polemik yang harus segera dipecahkan. Kalau boleh bicara jujur, sebenarnya pendidikan di Indonesia ini masih dapat dikatakan belum berhasil. Terbukti dengan semakin tingginya angka pengangguran di setiap tahunnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. TUJUAN HIDUP

Seringkah kita berpikir bahwa hidup menyodorkan terlalu banyak pertanyaan
yang tak terjawab kepada kita, tak sedikit diantara kita mencari tahu apa tujuan
hidup ini. Sebagian memikirkannya keras-keras, namun jawaban yang dirumuskan
tak jua menentramkan hatinya. Sebagian yang lain merenungkannya dalam nurani
dalam-dalam, namun sang pikiran masih penuh gelak bertanya-tanya. Bahkan
ada yang seolah tak perlu untuk apa miliki tujuan dalam hidup. Ada orang yang
mengaku telahm menemukan dalam akal dan budi hatinya, namun mereka kehilangan itu saat harus melewati hidup sehari-hari.

Benarkah tujuan hidup ini bisa ditemukan dengan memikirkannya keras-keras,
atau merenungkannya dalam-dalam? Bukankah begitu banyak orang merasa tak
perlu sibuk mencari tahu apa jawabannya. Bagi mereka, menjalani hidup
sebaik-baiknya, menikmati setiap detik dengan ketentraman pikiran dan
kerendahan hati adalah lebih dari cukup ketimbang setumpuk kalimat jawaban
dan pernyataan. Tujuan hidup tak berada di balik kata-kata – seindah apapun
kata itu digoreskan – melainkan dalam hidup itu sendiri yang kita temukan
sewaktu kita sungguh-sungguh menjalaninya. Dengan begitu kita kedua kaki
tak segan dan tahu kemana mesti diayunkan.

Persoalan falsafah, “Apa makna hidup?” mempunyai makna yang berbeza bagi setiap orang. Kekaburan pertanyaan ini terwujud dalam perkataan “makna” yang menyebabkan persoalan ini boleh ditaksif dengan pelbagai cara, umpamanya:

ü Apakah puncanya hidup?

ü Apakah sifatnya hidup (dan sifat alam semesta kita)?

ü Apakah maksudnya hidup?

ü Apakah yang bernilai dalam hidup kita?

ü Apakah tujuan hidup ataupun tujuan dalam kehidupan seseorang?

Soalan-soalan ini telah menimbulkan pelbagai jawapan yang bertentangan serta perdebatan dari teori-teori saintifik ke teori-teori falsafah, teologi dan penjelasan-penjelasan rohaniah. Semua gerak tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, didorong oleh rasa hidup dengan maksud yang sama, yakni supaya berlangsung hidupnya dan jenisnya. Tetapi cara manusia bergerak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Cara bergerak tumbuh-tumbuhan dan hewan berlangsung tanpa pengertian, karena mereka tidak memiliki pikiran. Sedangkan cara bergerak manusia berlandaskan pengertian, sebab manusia memiliki pikiran. Jadi perbedaan antara manusia dan benda hidup yang bukan manusia, hanya terletak pada kenyataan, bahwa yang satu mempunyai pikiran, sedang yang lain tidak mempunyainya.

Jika seseorang memakai pikirannya untuk berpikir, maka ia akan mendapat pengertian. Jumlah pelbagai pengertiannya ini merupakan ilmu. Maka tindakan manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya perlu berlandaskan ilmu, karena tanpa ilmu ia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Benda hidup lain, kecuali manusia, dapat bertindak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa ilmu. Misalnya telur itik yang menetas langsung menjadi anak itik. Anak itik itu walaupun baru sehari umurnya, bila terjun ke air sudah pandai berenang. Sedang manusia yang belajar berenang dalam tiga bulan lamanya, masih kalah pandainya dari anak itik. Dalam usahanya mencari makanan, anak itik tidak pernah mendapat didikan dari induknya, namun ia tidak pernah salah menelan pecahan kaca.

Demikianlah tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dapat terlaksana tanpa pengertian. Sebaliknya bayi berusia satu tahun, bila tidak dijaga oleh pengasuhnya sering menelan batu kerikil, karena ia tidak mengerti. Tetapi karena bayi itu anak manusia, seharusnyalah ia mengerti. Maka supaya tidak bertindak keliru bayi itu perlu diawasi oleh pengasuhnya. Karena itu manusia memerlukan pendidikan.

Jadi tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tidak bisa keliru. Seekor kucing tidak pernah keliru menerkam ketimun, sedang manusia bisa salah menelan asap tembakau. Kambing tidak pernah menggantung diri, tetapi manusia acapkali menggantung diri. Hewan tidak pernah menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup, tetapi manusia bisa menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup.

Dari itu bila manusia bertindak tanpa ilmu pengetahuan, maksud tujuan tindakannya tidak akan tercapai. Umpamanya orang menanak nasi, bila tanpa pengetahuan, berasnya tidak bisa menjadi nasi. Bagi manusia, ilmu pengetahuan ialah syarat mutlak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.Dalam masyarakat terdapat banyak ilmu pengetahuan guna mencukupi kebutuhan masyarakat dan perorangan. Macam-macam ilmu itu ialah ilmu pertanian, peternakan, pertukangan, sosial, ekonomi, perkawinan, politik, filsafat, ilmu jiwa dan sebagainya. Jumlah semua ilmu yang ada di masyarakat itu dinamakan kebudayaan.

- Tujuan hidup menurut tokoh-tokoh Alkitab:

Salomo: setelah berbicara mengenai kesia-siaan hidup ketika hidup dihidupi dengan cara seolah-olah apa yang ada hanyalah dunia dan segala yang ditawarkannya Salomo menyimpulkan dalam kitab Pengkhotbah: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 12:13-14). Salomo mengatakan bahwa hidup adalah menghormati Tuhan dengan pikiran dan cara hidup kita dan menuruti perintah-perintahNya karena orang akan berdiri di hadapanNya untuk dihakimi.

- Tujuan hidup sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Wahyu:

Kitab terakhir dalam Alkitab, kitab Wahyu mendiskusikan apa yang akan terjadi pada akhir dari zaman yang kita kenal ini. Setelah kembalinya Kristus dan masa pemerintahanNya selama 1.000 tahun di atas bumi ini berakhir, mereka yang tidak percaya akan dibangkitkan dan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka dan dikirim ke dalam kekekalan mereka di dalam lautan api (Wahyu 20). Langit dan bumi sebagaimana kita ketahui akan dihancurkan dan langit baru serta bumi baru akan diciptakan dan kekekalan akan tiba. Sekali lagi, sebagaimana dalam Taman Eden dalam kitab Kejadian, manusia akan kembali berdiam dengan Allah dan Allah dengan mereka (Wahyu 21:3), semua sisa kutukan (atas bumi karena dosa manusia) akan disingkirkan (kesedihan, penyakit, kematian, kesakitan) (Wahyu 21:4). Allah mengatakan bahwa mereka yang menang akan mewarisi segalanya, Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi anak-anakNya.

- Tujuan dalam hidup bergantung pada asal usul manusia:

Jika kita adalah hasil dari evolusi, maka kita tidak lebih dari makhluk biologis yang rumit yang berhasil mencapai taraf kesadaran pribadi. Kita kecewa karena tidak ada tujuan yang lebih besar dalam hidup ini selain berusaha mempertahankan hidup dan kelangsung spesies sampai kecelakaan kosmik lai terjadi dan menaikkan tingkat hidup kita setingkat lebih tinggi. NAMUN, kita BUKANLAH hasil dari kecelakaan kosmik. Sains yang sejati menguatkan fakta bahwa evolusi makro (transformasi spesies yang satu ke spesies yang lain) adalah suatu lelucon belaka. Evolusi salah disebut sebagai “sains” ketika sebetulnya tidak dapat diulangi atau diamati tapi harus diterima melalui iman, sama seperti penciptaan. Sejalan dengan makin kita belajar mengenai biologi-mikro, kita mendapatkan bahwa kemungkinan untuk pembentukan molekul protein yang paling sederhana yang dibutuhkan untuk hidup adalah sama sekali tidak mungkin sekalipun ada waktu TRILYUNAN tahun untuk terjadi secara kebetulan kombinasi yang tepat untuk terbentuknya asam amino. Demikian pula fosil tidak mendukung teori evolusi. Dalam kata-kata dari penganut teori evolusi sendiri seharusnya ada bermacam bentuk hidup tahap peralihan yang belum ditemukan. Apa yang dibuktikan oleh fosil adalah apa yang dikatakan oleh Kejadian 1: sejumlah besar spesies yang berbeda muncul pada saat yang sama dan spesies-spesies itu pada umumnya masih sama dengan apa yang ada saat ini. Perubahan pada burung atau ngengat dalam abad terakhir dan yang sering dikutip sebagai dukungan untuk evolusi adalah merupakan perubahan dalam spesies (evolusi mikro), sesuatu yang tidak ditentang oleh Alkitab atau penganut-penganut penciptaan. Lagipula, makin kita mempelajari apa yang disebut dengan sel sederhana kita makin menemukan apa yang telah dikatakan oleh Kejadian pasal 1: bahwa hidup adalah hasil dari Desainer dan Pencipta yang sangat berpengetahuan. Karena kita bukanlah hasil dari kecelakaan kosmik namun adalah ciptaan Allah, kalau ada tujuan hidup, Allah telah memberitahukannya kepada kita.

B. TUJUAN PENDIDIKAN

Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan, relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar, yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan.

Oleh karena itu pendidikan memerlukan filsafat. Karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan uncul masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih kompleks, yang tidak terbatasi oleh pengalmaan maupun fakta faktual, dan tidak memeungkinkan untuk dijangkau oleh ilmu. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat dan filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan selalu berbungan langsung dengan tujuan kehidupan individu dan masyarakat penyelenggara pendidikan. Hubungan antar filsafat dengan pendidikan adalah, filsafat menelaah suatu realitas dengan luas dan menyeluruh, sesuai dengan karateristik filsafay yang radikal, sistematis, dan menyeluruh. Konsep tentang dunia dan tujuan hidup manusia yang merupakan hasil dari studi filsafat, akan menjadi landasan dalam menyusun tujuan pendidikan. Nantinya bangun sistem pendidikan dan praktek pendidikan akan dilaksanaka berorientasi kepada tujuan pendidikan ini. Brubacher (1950) (Sadulloh, 2003) mengemukakan hubungan antar filsafat dengan filsafat pendidikan: bahwa filsafat tidak hanya melahirkan ilmu atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Bahkan Jhon Dewey berpendapat bahwa filsafat adalah teori umum pendidikan. Filsafat pendidikan haruslah minimal dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam pendidikan.

Sadulloh merumuskan empat pertanyaan mdasar pendidikan sebagai berikut. 1. Apakah pendidikan itu? 2. Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan? 3. Apakah yang seharusnya dicapai dalam proses pendidikan? 4. Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun yang etrsirat dapat dicapai? Jawaban atas keempat pertanyaan tersebut akan sangat tergantung dan akan ditentukan oleh pandangan hidup dan tujuan hidup manusia, baik secara individu maupun secara bersama-sama (masyarakat/ bangsa). Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas pada fakta faktual, tetapi filsafat pendidikan harus sampai pada penyelasian tuntas tentang baik dan buruk, tentang persyaratan hidup sempurna, tentang bentuk kehidupan individual maupun kehidupan sosial yang baik dan sempurna. Ini berarti pendidikan adalah pendidikan adalah pelaksanaan dari ide-ide filsafat. Dengan kata lain filsafat memberikan asas kepastian bagi nilai peranan pendidikan, lembaga pendidikan dan aktivitas penyelengaraan pendidikan. Jadi peranan filsafat pendidikan merupakan sumber pendorong adanya pendidikan. Dalam bentuk yang lebih terperinci lagi, filsafat pendidikan menjadi jiwa dan pedoman asasi pendidikan. Pendidikan merupakan usaha untuk merealisasikan ide-ide ideal dari filsafat menjadi kenyataan, tindakan, tingkah laku, dan pembentukan kepribadian.

Tujuan pendidikan seharusnya adalah mengenal Allah SWT. Semakin kenal seseorang terhadap Allah SWT, maka orang tersebut akan semakin
menyadari ‘kehadiran’-Nya dalam setiap keadaan, sehingga terlindungi
dari sifat curang, mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar.
Kedekatan dengan khaliq juga berdampak kepada semakin hebatnya daya
manfaat seseorang kepada lingkungannya, karena ilmu-Nya akan mengalir
deras kepada yang bersangkutan. Sekarang ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi, jauh dari tujuan untuk mengenal Allah SWT.

Manifestasi tujuan duniawi dapat kita lihat pada tujuan pendek
pendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata (nilai
akademik pun hanya untuk mengukur kekuatan menghafal), sedangkan
tujuan akhirnya adalah uang dan status sosial.

Kesalahan tujuan jangka pendek pendidikan berakibat pada pendidikan
yang berbasis kepada kurikulum semata dan semakin menafikkan peran
guru. Ketika hal ini terjadi, guru hanya berperan sebatas sebagai
pengajar (yang hanya mengajarkan materi-materi pelajaran), tidak
sebagai pendidik (selain memberikan materi pelajaran, tapi juga
nilai-nilai lain, seperti etika, akhlak, ruh ilmu yang diajarkan dll).
Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih berminat mengalokasikan
dana untuk pembuatan buku-buku kurikulum yang tebal-tebal (sehingga
dapat dikorup), ketimbang memperbaiki kesejahteraan para guru.

Dampak ke siswa adalah mereka berorientasi sebatas pada materi
pelajaran akademik (yang berbasis kepada memorizing itu), sehingga
tidak heran kita temui para siswa kita tidak sungkan-sungkan untuk
mencontek ketika ujian atau doyan tawuran atau hidup secara hedonistik
atau menjadi para pembangkang. Hal tersebut disebabkan tidak
bersemainya nilai-nilai etika dan akhlaq pada lubuk hati mereka.
Cahaya Tuhan tidak menyinari hati mereka, disebabkan para guru tidak
dapat menjadi agen ilmu-Nya dengan baik; ilmu sebatas tertulis secara
kering di kertas, tidak pernah menyinari para siswa (bahkan mungkin
para gurunya sendiri).

Kesalahan tujuan jangka panjang pendidikan berakibat pada sifat tamak
para siswa. Bagi yang mengejar uang, maka mereka terkondisi sebagai
koruptor-koruptor ulung, jika bekerja di pemerintahan, dan menjadi
para kapitalis yang tidak berhati nurani, jika berada di swasta. Bagi
yang mengejar status sosial, misalnya dalam dunia sains dan teknologi,
mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan-kecurangan demi
prestasi yang berakibat pada status sosial. Hal-hal tersebut sebagai
akumulasi akibat pendidikan yang tidak berupaya menghadirkan Allah
SWT. Output pendidikan sekuler menghasilkan para manusia yang tidak
mengenal etika, akhlaq dan cahaya ilmu, sehingga mereka berbuat
kerusakan, baik skala kecil atau pun besar.

Seseorang disekolahkan oleh orang tuanya tentu agar menjadi seseorang yang cerdas dan berperilaku baik. Itu adalah tujuan diadakannya pendidikan di negara indonesia, yaitu Taqwa, Cerdas dan Terampil. Dengan tujuan ini sudah seharusnyanya seseorang yang telah memasuki dunia pendidikan harus berbeda dengan orang yang belum pernah mengenyam pendidikan. Perbedaan itu tentu harus terlihat dari ketaqwaan, kecerdasan dan ketrampilannya. Manakala tidak ada perbedaan apalah artinya pendidikan baginya.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, dari sisi ketaqwaan maka dia harus lebih bertaqwa. Mengapa? Karena semakin tinggi pendidikan berarti dia semakin tau tentang hal yang baik dan yang buruk, mana yang jahat dan tidak jahat. Kalau dia tidak semakin taqwa, dia pasti akan menjadi seseorang yang sombong, angkuh karena telah mampu mengenyam pendidikan yang tinggi. Dari sisi perasaan seseorang yang berpendidikan tinggi pasti lebih egois dan kurang menghargai perasaan orang lain jika tujuan taqwa ini tidak ada padanya. Karena dengan peningkatan ketaqwaan ini seseorang akan lebih santun, berakhlak mulia dan dapat menghargai perasaan sesama, tentunya dengan pengetahuan yang dia miliki.

Kemudian seseorang yang berpendidikan pasti menjadi lebih cerdas. Ini menjadi tujuan utama orang tua memasukkan anaknya untuk masuk dunia pendidikan. Terkadang orang tua lupa bahwa ketaqwaan adalah modal utama untuk hidup (sisi rohani). Orang yang cerdas tidak bertaqwa dia akan menjadikan kecerdasannya untuk mengbohongi orang lain, dan hal negatif lainnya.

BAB III

KESIMPULAN

Mengetahui tujuan hidup tidak akan terlepas dari siapa yang memberikan kehidupan sebagai asal kehidupan itu sendiri, dan mengetahui asal dari kehidupan tidak bisa terlepas dari pengenalan terhadap diri sendiri, sebagai mana dijelaskan oleh Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah bahwa, “Awwaluddiin ma’rifatuhuu…” artinya “Awal agama adalah mengenal Allah”. Yang telah memberikan kehidupan. Dalam kesempatan yang lain Imam Ali a.s. menyatakan, “Siapa yang mengenal dirinya pasti mengenal Tuhannya”. karan diri adalah ego yang sering membuat manusia itu egois dengan dirinya, lupa akan siapa dirinya yang tercipta dari segumpal darah menjadi segumpal daging serta tanah tak tak bernilai, jika manusia sadar mengapa dia tercipta dari tanah yang rendah dan slalu diinjak injak pasti dia akan menyadari bahwa hidupnya hanyalah seorang budak yang setiap saat tunduk serta merendahkan diri dan siap untuk menerima injakan dan cobaan dari Penciptanya.

Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan proses perkembangan itu secara almiah adalah kedewasaan, sebab potensi manusia yang paling alamiah adalah bertumbuh menuju tingkat kedewanaan, kematangan. Potensi ini akan dapat terwujud apabila prakondisi almiah dan sosial manusia bersangkutan memungkinkan untuk perkembangan tersebut, misalnya iklim, makanan, kesehatan, dan keamanan, relatif sesuai dengan kebutuhan manusia. Kedewasaan yang yang bagaimanakah yang diinginkan dicapai oleh manusia, apakah kedewasaan biologis-jasmaniah, atau rohaniah (pikir, rasa, dan karsa), atau moral (tanggung jawab dan kesadaran normatif), atau kesemuanya. Persoalan ini adalah persoalan yang amat mendasar, yang berkaitan langsung dengan sisitem nilai dan standar normatis sebuah masyarakat (Noor, 196). Cara kerja dan hasil filsafat dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia, dimana pendidikan merupakan salah satu dari aspek kehidupan tersebut, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan dan menerima pendidikan.

DAFTAR BACAAN

Linda. 2005. Perlukah Mencari Tujuan Hidup. Http/google/tujuanhidup

Purwanto, Edi. 2008. Apakah Tujuan Pendidikan. http/google/tujuanpendidikan

Sadulloh, U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung.

Wakhudin dan Trisnahada. Filsafat Naturalisme. (Makalah) Bandung: PPS-UPI Bandung

Luluvikar. 2004. Apa Tujuan Hidupmu. http/google/tujuanhidup

2 Tanggapan to “FILSAFAT PENDIDIKAN”

  1. milla octavia Says:

    gak lengkap bg!

  2. milla octavia Says:

    perlu di gosok dulu text ny y bg,,baru klihatan ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: